Haruskah Aku Dirajam?!?
10/02/2010 at 23:56 6 komentar
Sore itu aku duduk bermain dengan putri pertamaku yang baru berusia dua tahun sembilan bulan. Kring… kring… kring… suara telepon genggamku berdering. Yah, memang begitulah suara telepon genggamku yang sudah kuno itu. Jika di luar sana orang-orang sudah menggunakan nada dering pholifonik, MP3, atau yang lainnya, telepon genggamku masih klasik dan orang bilang sudah ketinggalan zaman. “Pa, aya telepon, mamah panginten” kata putriku yang fasih berbahasa Sunda itu. “Muhun panginten, cik urang angkat ku bapa,” sahutku sambil merogoh telepon genggamku yang tergeletak di atas rak buku.
Aku angkat telepon itu sambil berucap, “Assalamu ‘alaikum…!”
“Hai…, apa kabar Bang? Masih ingat aku nggak?” sahut suara di seberang sana, yang sama sekali nggak jawab ucapan salamku.
“Siapa ya? Aku lupa!”
“Ah si Abang kaya kakek-kakek aja, aku Dina, yang kemaren ketemu di bis waktu pulang ke Tasik itu, yang pake jaket biru, dan duduk di jok belakang”, jelasnya cukup panjang.
“Oh, iya… ya.. ya… aku ingat. Tapi… kok bisa tahu nomor teleponku! Dari mana?”
“Ada deeeh! Kapan-kapan main ya ke rumahku, ada yang mo ditanyain nih. Bisa kan?”
“…”
***
Suatu malam, sepulang kerja aku mampir ke rumah dia. Setiba di depan rumahnya, ku ketuk pintu sambil mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaikum”. Krak… krak… suara pintu rumah itu dibuka, dan “waw…!!!” Seorang perempuan berkulit putih dengan perawakan demplon melongok ke luar.
“Eh, Abang, mari masuk Bang!” Aku pun masuk dengan jantung berdebar-debar. Bagaimana tidak, aku masuk ke kandang macan yang kelihatannya sudah siap menerkam. Aku duduk di atas karpet biru bergambar Micky Mouse yang digelar di tepi ruang tengah rumah itu.
“Din, kok sepi amat! Katanya kamu berdua bareng adikmu. Ke mana adikmu itu?”
“Sedang keluar sebentar. Nyantai aja lagi Bang! Kan kita bisa lebih tenang”
“Maksudmu, ap…” pertanyaanku nggak tuntas, tangan lembutnya menutup mulutku. Jantungku makin berdebar. Apalagi ketika jari-jari lentik itu menjelajah ke sekujur tubuhku. Ruh kemalaikatanku berkata, “Ingat, ini perbuatan dosa. Apalagi kamu itu sudah punya istri dan anak.” Tetapi ruh kemanusiaanku berkata, “Ini kesempatan, jangan disia-siakan. Jarang sekali lho… mendapat yang seperti ini”.
Pertengkaran antara iman dan nafsu semakin alot. Dan akhirnya ku tenggelam, tak ingat apa-apa lagi. Aku terhanyut dalam gelora laut angkara yang teramat dahsyat. Di samping kepuasan yang kurasa, perasaan tegang, takut, serta merasa berdosa pada Tuhan dan istri serta anakku terus menghantuiku. Dalam keadaan seperti itu, kring…kring… kring… suara alarm telepon genggamku menyadarkan aku. Suara azan subuh di dekat rumahku terdengar jelas dan tegas memanggilku untuk segera menemui Sang Khalik. “Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya aku terbebas dari kejaran dosa itu. Dan Engkau telah membangunkanku dari tidur yang menakutkan itu pada saat yang sangat tepat. Ya, Allah… jagalah diriku, jangan sampai aku mengalami peristiwa seperti apa yang terjadi dalam mimpiku itu. A’uzubillahi min zalik. Alhamdulillahi ahyana ba’da ma amatana wailaihi nusyur…!”
Entry filed under: Sekedar Cerita. Tags: Mimpi, Rajam, Selingkuh.
6 Komentar Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed


1.
Khery Sudeska | 12/02/2010 pada 09:28
Mimpi ini pasti punya hikmah ya, Kang…
2.
Erdien| Gara-Gara Candradot.com | 12/02/2010 pada 10:03
Pastinya Mas!
Itu sangat berarti bagi saya, “Jangan sekali-kali mengkhianati istri. Kalo fisik pasti banyak yang lebih baik. Namun, kasih sayang yang sudah kita dapat dari istri, belum tentu dapat kita temukan dari yang lain”.
Mimpi aja menakutkan, apalagi kalo beneran, iiiiy ….
3.
suarakelana | 14/02/2010 pada 19:19
Siangnya teh mikiran naon Kang, geuning mimpina kitu ?
4.
Vidzas Erdien| Gara-Gara Candradot.com .... | 15/02/2010 pada 04:57
Heeheuheu… heuheu… duka atuh da teu ngemutan nanaon. Eta mah sumping nyalira, tamu nu teu diondang tea panginten
5. Betulkah Selingkuh Itu Indah? | Sundagasik.com | 07/04/2010 pada 09:00
[...] di Vierdien’s Blog, saya pernah bercerita tentang pengalaman selingkuh dalam artikel Haruskah Aku Dirajam?!! Dari pengalaman tersebut, yang saya rasakan selingkuh itu mendebarkan, menakutkan,merasa berdosa [...]
6. Betulkah Selingkuh Itu Indah? | 12/10/2010 pada 23:38
[...] di Vierdien’s Blog, saya pernah bercerita tentang pengalaman selingkuh dalam artikel Haruskah Aku Dirajam?!! Dari pengalaman tersebut, yang saya rasakan selingkuh itu mendebarkan, menakutkan, merasa berdosa [...]