Pelajaran Saat Liburan … Teruslah Berbuat Zalim, Biar Orang lain Hancur Walau itu Keluarga Sendiri
01/03/2010 at 21:47 25 komentar
Kamis, 25 Februari 2010, saya pernah bercerita mo pulang kampung untuk liburan kecil-kecilan
dan alhamdulillah semuanya lancar sesuai rencana. Dari awal sampai akhir semuanya membahagiakan.
Namun, di tengah kebahagiaan itu ada juga kesedihan. Memang bukan untuk keluarga kecil saya. Tetapi, sebagai sesama manusia yang memiliki perasaan, keadaan seperti itu sangat memilukan. Apakah gerangan yang terjadi?
Ceritanya seperti ini:
Sebutlah namanya Hasanah, Jahilah, Madlulah. Hasanah dan Jahilah adalah adik dan kakak, sementara Madlulah adalah ibunya.
Hasanah dan Jahilah bekerja sebagai guru. Karena nasib mujur, sang kakak—Jahilah— di awal tahun 2010 diterima jadi PNS. Maka ditinggalkannya sekolah lama tempat dia bekerja. Segudang pekerjaan yang belum tuntas pun mau tidak mau dibebankan kepada adiknya—Hasanah. Si adik pun dengan rela menyelesaikan tugas-tugas yang harusnya jadi tanggung jawab kakanya. Hal itu dilakukan demi menjaga nama baik keluarga. Namun, apa yang terjadi di kemudian hari?
Si kakak ternyata punya urusan dengan orang lain. Ketika bertugas, dia menarik uang LKS dari murid-muridnya. Di saat LKS harus dibagikan, dia sudah meninggalkan sekolah tempat dia bekerja. Tugas pun dipegang oleh guru lain, yaitu guru bidang pelajaran yang sama. Guru pengganti ini tidak mau membagikan LKS kepada murid-muridnya, karena TAKUT tidak dapat bagian keuntungan dari uang yang sudah dikumpulkan oleh Jahilah.
Paramurid pun protes dan mendatangi Hasanah, adik Jahilah. Lagi-lagi Hasanah berusaha menjaga nama baik Jahilah dan guru penggantinya, dengan mengatakan “LKS itu belum dibagikan mungkin karena ‘guru pengganti’ malu karena LKSnya sudah keriting akibat kena hujan.” Ia tidak mengatakan bahwa ‘guru pengganti’ tidak membagikan LKS itu karena takut tidak dibagi keuntungan oleh Jahilah. Karena jika dibilang begitu, selain menjatuhkan nama baik ‘guru pengganti’ dan Jahilah, nama baik guru lain pun akan ikut tertuduh jelek.
Peristiwa protes murid dan tidak dibagikannya LKS pun oleh Hasanah diceritakan kepada Jahilah dan Sang Ibu, Madlulah. Apa jawaban mereka? Dengan entengnya Jahilah mengatakan, “Ya Sudah ngga akan dibagi keuntungan itu. Biarin! Sekalian mo dibilangin sama murid-murid bahawa ‘guru pengganti itu’ tidak membagikan LKS karena takut tidak dapat untung. Biarin malu juga dia, toh aku udah nggak kerja lagi di sana!”
Sungguh terlalu….!!! Jahilah tidak peduli terhadap adiknya yang selama ini susah payah menanggungjawabi tugas yang merepotkan akibat ulah Si Jahilah. LEBIH MENYAKITKAN LAGI BUAT HASANAH saat sang ibu, Madlullah, mendukung Jahilah dan menganggap keputusan Jahilah itu sebagai kebenaran.
Melihat kenyataan ini, saya hanya bisa berkomentar “Ayo teruslah berlaku zalim barpun itu terhadap keluarga sendiri, niscaya setan iblis laknatullah bersama Anda!!!”
Apa pendapat Sobat-Sobat tentang peristiwa yang terjadi dalam keluarga tersebut?
Entry filed under: Sekedar Cerita. Tags: Kehidupan, Kezaliman, Setan Iblis Laknatullah.
25 Komentar Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed


1.
evan | 01/03/2010 pada 22:54
Melihat kenyataan ini, saya hanya bisa berkomentar “Ayo teruslah berlaku zalim barpun itu terhadap keluarga sendiri, niscaya setan iblis laknatullah bersama Anda!!!” —>> kata-kata ini yang ngeri mas,,
ada juga orang yg punya prinsip gini, kalo mau jadi penjahat,sekalian jadi penjahat yang terkenal n gak usah tanggung-tanggung,mau nyuri jangan ayam seekor sekalian 6,7 T heheheh …, dan kalo mau jadi orang baik, jadilah orang baik sebaik-baiknya urusan dikenal itu belakangan
hope you get the point!!
2.
Vidzas Erdien | 01/03/2010 pada 23:06
Ngeri ya Mas!
Iya memang biar yang mau berbuat jahat jadi ngeri
Memang, kalo mo jadi orang baik, jangan setengah-setangah biar kebaikannya memang baik dan akibatnya pun baik. Dan yang terpenting, orang baik tidak butuh dikenal karena orang baik pasti dikenal
3.
Ahmad Subandono | 02/03/2010 pada 05:35
judul di atas bukan pelajaran, tapi sesuatu yang tidak pantas dilakukan oleh siapapun yang masih jernih otaknya!
4.
Vidzas Erdien | 02/03/2010 pada 08:45
Wah salah ya?!
Itu mah bukan pelajaran, tapi wajib dihajar ya?!
5.
andry sianipar | 02/03/2010 pada 07:54
Salam super-
Salam hangat dari pulau Bali-
wah,,, seru mas artikelnya…
saya sampai baca dua kali biar paham benar…
6.
Vidzas Erdien | 02/03/2010 pada 21:37
Hahaha….
Seru ya?! Sobat-Sobat Blogger lain malah bilang serem tuh
7.
online-business-story.com | 02/03/2010 pada 14:55
waduh kang, serem amat judulnya….
saya cuma bisa bilang mudah-mudahan mereka diberi hidayah… Amin
Salam Kreatif,
Octa Dwinanda
8.
Vidzas Erdien | 02/03/2010 pada 16:17
Iya serem! Saya aja nulisnya TAKUT
Amin! Amin! Amin!
9.
Rafi | 02/03/2010 pada 16:16
Walah, eta geuning….Meuni reuwas Judulnya kang. Semoga yg dholim diberikan Kesadaran dr Allah SWT. Amin
10.
Vidzas Erdien | 02/03/2010 pada 16:19
Oh Reuwas Nyah? Luncat henteu?
Muhun, Amin!
11.
Roi Lukman Saputra | 02/03/2010 pada 16:17
Begitulah fakta yang terjadi di dunia ini:
1. Kebaikan dibalas dengan kejahatan. (Yang dilakukan kakak terhadap adiknya).
2. Kamu takut rugi, maka aku akan benar-benar membuatmu rugi (Yang dilakukan kakak terhadap rekan gurunya)
3. Dari pada mendukung si junior yang baik, lebih baik mendukung si senior yang jahat (yang dilakukan ibu terhadap kedua anaknya)
Ngeri memang kalau kita mengikuti arus kejahatan itu. Tapi kalau kita berani menentang arus tersebut dan berbuat kebalikannya:
1. Membalas kejahatan dengan kebaikan
2. Membangun integritas saat orang meragukan kita.
3. Lebih berpihak pada yang benar walaupun itu anak-anak dari pada memihak yang senior yang salah.
Maka akan indah jadinya….
12.
Vidzas Erdien | 02/03/2010 pada 16:23
1. Membalas kejahatan dengan kebaikan
2. Membangun integritas saat orang meragukan kita.
3. Lebih berpihak pada yang benar walaupun itu anak-anak dari pada memihak yang senior yang salah.
Maka akan indah jadinya….
YANG INI MEMANG SUNGGUH INDAH DAN PASTI MENIMBULKAN KEDAMAIAN.
SAYANGNYA, SANGAT SEDIKIT ORANG YANG MAMPU MELAKUKAN ITU.
SEMOGA MAS TERMASUK DI ANTARA YANG SEDIKIT ITU.
SALAM SUKSES!
13.
suarakelana | 02/03/2010 pada 22:32
ngeri, seureum, mangkel, dongkol.. tapi itulah adanya
dan kejadian semacam begini banyak Kang
enggak enaknya lagi, yg jadi contoh kok guru
saya berdoa bagi mereka agar cepet sadar…
14.
Vidzas Erdien | 02/03/2010 pada 22:58
Muhun kitu puguh oge kajantenanana teh bet guru.
Mung kumaha da memang kajantenan nyata pisan ieu mah
Muhun mudah mudah sing sadar tah nu kararitu teh
15.
iin syah | 04/03/2010 pada 10:43
Ternyata bisa juga berkisah seram, heheheee…
16.
Vidzas Erdien | 04/03/2010 pada 16:37
Heuheuheu… heuheu… seram di mananya Mba In? Seramnya cuman di judul ama penutupnya doangan kan?
17.
Arief Rizky Ramadhan | 04/03/2010 pada 22:04
wiih enak banget liburannya.. saya belum pernah loh liburan wkwkwkwk
18.
Vidzas Erdien | 04/03/2010 pada 22:14
Ntar akhir semester kan bakal liburan hoya
19.
Imamz | 06/03/2010 pada 11:27
kakak yang jahat sekali, meninggalkan tanggung jawab begitu saja .
Thanks
Imamz
20.
Vidzas Erdien | 06/03/2010 pada 11:42
Iya memang Mas ImamZ Jahat!
21.
Vidzas Erdien | 06/03/2010 pada 11:43
Eh salah…
maksud saya:
Iya betul Mas ImamZ, itu contoh kaka yang Jahat!
22.
vanesha | 22/05/2010 pada 12:18
orng seperti itu tidak inget mati dan siksa kubur,dan azab Allah SWT
23.
Erdien | 22/05/2010 pada 12:22
Iya kali… ingetnya dunia doang
24.
alimuddin | 03/08/2011 pada 12:00
iyalaaaaaaaaaaaaaaaaah, orang masih didunia…ngapain ingat akhirat belum terjadi..maksunya kan belakangan akheatnya dunia duluuuuuuuuuuulah. itulah prinsip sebagian manusia sekarang…makan anak dan anak istrinya dari hasil korupsi, nipu, ngerampok, ngerampas bukan haknya..tu lihat hakim yang otaknya hanya uaaaaaaaaaaaaaaaang dan kesenangan ditangkap kpk. nilai kemenangan itu kadang berakhir pada berapa besar keuangannya.
25.
Erdien | 03/08/2011 pada 16:21
Moga-moga Bang Alimuddin nggak termasuk di dalamnya